Plaintext (harafiah: teks polos), dalam konteks ini merujuk ke penulisan teks secara digital tanpa menggunakan format yang hanya dapat dibaca oleh aplikasi tertentu, baik Open Source ataupun Closed Source—dengan kata lain, menggunakan format polos—sehingga bisa dibuka dan diinterpretasi oleh manusia dengan menggunakan perantara sederhana sekalipun.
Keuntungan utama: interoperability. Kalau misalnya aplikasi/layanan yang kamu gunakan untuk mencatat (karena kaitannya dengan teks) suatu saat berhenti mendapat update, atau bahkan berhenti dioperasikan, migrasi data bisa jauh lebih sederhana tanpa perlu memikirkan konversi format, baik untuk masalah penting seperti membuka data tersebut atau yang agak remeh seperti format layout.
Pengandaiannya bisa seperti jika kamu memakai Kanva buat bikin presentasi, tapi teman/rekanmu masih pakai PowerPoint. Bukan berarti salah satu lebih bagus atau lebih jelek dari yang lain, tapi mengakali masalah seperti ini kan bisa dengan masing-masing membuat dokumen berisi poin-poin yang akan dimasukkan ke dalam slide presentasi, baru akhirnya dimasukkan ke dalam format presentasi yang sesuai.
Keuntungan kedua: ukuran file yang lebih kecil. Karena isi filenya cuma yang benar-benar penting, yaitu konten yang diketik (bandingkan dokumen seperti .docx atau .odt dengan .txt ketika dibuka dengan menggunakan editor teks seperti notepad atau semacamnya), ukuran file plaintext bisa jauh lebih kecil, karena di dalam file tidak ikut tersimpan informasi terkait bagaimana teks tersebut perlu ditampilkan atau ditata. Biasanya hal seperti ini diatur oleh editor plaintext file, seperti Obsidian yang menggunakan file .md—file dengan format ini kurang lebih memberitahukan ke editor untuk menggunakan formatting Markdown ketika menampilkan kontennya.
https://nachbelichtet.com/en/obsidian-joplin-and-the-productivity-paradox